Selasa, 26 Februari 2019

Hidup Harus Seperti Burung Rajawali Bukan Pipit

 (Roberth Jimy Lambila)

PANA.DANIL | KUPANG - Koordinator Kejaksaan Tinggi Negeri Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Roberth Jimy Lambila.SH.MH menyebutkan hidup harus seperti burung Rajawali bukan Pipit.

Disampaikan Jimy saat menyampaikan ucapan selamat ulang tahun yang ke 40 kepada sahabatnya, Beny Mauko di Kupang, Minggu (17/2/19), malam.

“Burung Rajawali itu besar dan memiliki usia terpanjang didunia mencapai 70 tahun bukan seperti Pipit yang kecil. Akan tetapi untuk mencapai umur tersebut, Seekor Rajawali harus membuat keputusan besar pada umurnya yang ke 40” kata Jimy

Menurutnya, pada saat umur 40 tahun, cakarnya mulai menua, paruh menjadi panjang dan membengkok hingga hampir menyentuh dada, sayapnya pun menjadi sangat berat karena bulunya telah tumbuh lebat dan tebal. Sehingga dapat menyulitkannya terbang.

“Saat itu, Sang Rajawali itu hanya punya 2 pilihan; Menunggu kematian atau menjalani proses transformasi,” imbuh Jimy

Dijelaskan Jimy, ketika Rajawali itu melakukan transformasi, ia harus berusaha keras terbang setinggi langit mencapai puncak dan bersarang ditepi jurang selama berproses

ia harus mematukkan paruhnya pada batu karang sampai terlepas dari mulutnya kemudian menunggu tumbuhnya paruh baru. Setelah tumbuh paruh itu, ia harus mencabut satu persatu cakar-cakarnya dan ketika cakar yang baru sudah tumbuh, ia akan mencabut bulu badannya satu per satu.

Sekitar bulan ke 6, bulu-bulu yang baru sudah tumbuh dan ia mulai dapat terbang kembali seperti sedia kala dengan paruh dan cakar baru, ia mulai menjalani 30 tahun kehidupan barunya dengan penuh energi.

“Apa yang mau kita ambil hari ini. Kakak Beny sudah 40 tahun. Apakah memilih pipit atau Rajawali,” tutup Jimy disambut tepuk tangan yang meriah

#InspiratifKehidupan
(*DanilTakpala)

Bakat Musisi Muda, Yopudara: Inspirasi Datang Dari Para Senior


Musisi Muda Berbakat, Imanuel Yopudara

PENA.DANIL | KUPANG - Musisi muda berbakat asal nusa kenari, Imanuel Yopudara yang kini jadi buah bibir netisen mengaku, dirinya terinspirasi dari para senior. 

Itu dikatakan laki-laki dengan nama sapaan "Io,” bahwa sejak 2004-2009 di Alor, ia mulai mengembangkan bakatanya saat bergabung dengan komunitas persekutuan siswa kristen yang diketuai oleh  Dance Dengak.

Kemudian 2009-2010, bakat muda kelahiran kalabahi, 9  februari 1992 ini pun mulai bergabung dengan Alexander Langkameng alias Bordjhu di komunitas tarik suara anak jalanan. Selanjutnya dengan musisi senior yang lain. 

Alumni Universitas Kristern Artha Wacana, Kupang ini makin mengkilau setelah bergabung dengan PSM Kampus dan mulai terbiasa bernyanyi ditempat-tempat umum. Apalagi usai wisudah (2015), dia fokus pada talentanya. 

Tidak heran, saat ditemui dikediamannya, asrama mahasiswa pemda Alor, Oesapa, kupang (25/2) sore, dirinya sedang mempersiapkan diri untuk bernyanyi di suatu tempat yang enggan disebutkan namanya.

Dikatakannya, saat ini belum terpikirkan untuk meninggalkan dunia musisi. Dia tetap fokus dan bedoa untuk yang terbaik. Io juga berterima kasih kepada Mario Klau dan Admesh Kamaleng yang telah menjadikan dirinya dikenal.


(*DanilTakpala)